Pada masa pandemi seperti sekarang ini hampir semua sektor ekonomi di seluruh dunia terpukul, tak terkecuali bidang properti. Meskipun secara harga tidak mengalami penurunan, namun dari sudut pandang penjualan terjadi penurunan yang sangat signifikan.

Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia memiliki puluhan developer properti dari yang berskala kecil, menengah, hingga pemain nasional. Semuanya berkumpul di sini karena bisa dikatakan kebutuhan akan properti di Surabaya sangat tinggi dan nilai investasi yang menjanjikan.

Ketika masa pandemi seperti ini, tren penjualan properti surabaya mengalami penurunan yang sangat signifikan. Hal tersebut dapat diamati dari banyaknya karyawan yang mendapatkan PHK dari perusahaan. Bahkan developer sebesar Ciputra sekalipun telah melakukan PHK besar-besaran.

Hampir semua developer properti di Surabaya hingga saat ini mengalami masa struggling yang cukup parah. Tidak hanya di bidang properti, real estate seperti mall juga banyak yang mengalami kesulitan.

Hampir semua mall di Surabaya saat ini sepi dari pengunjung. Bahkan tidak sedikit pula yang mengubah fungsi mall menjadi rs darurat dan sebagainya.

Dampak Krisis Penjualan

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, salah satu dampak utama dari rendahnya tingkat penjualan adalah banyaknya PHK masal. Namun tidak hanya itu saja. Terdapat serangkaian dampak negatif yang dirasakan oleh industri lain akibat situasi krisis ini.

Salah satu yang terdampak dari menurunnya tingkat penjualan properti di Surabaya adalah tidak berjalannya ekosistem ekonomi. Seperti yang kita ketahui bahwa properti merupakan salah satu bagian penting bagi ekosistem ekonomi di Indonesia.

Ketika tidak ada penjualan, bank tidak dapat mengeluarkan kredit yang notabene merupakan salah satu sumber pemasukan utama mereka. Selain itu, banyaknya kredit yang macet akibat user yang tidak mampu membayar rumah juga merupakan pukulan telak bagi pihak bank.

ketika bank mengalami tingkat kredit yang rendah, perputaran rupiah tidak berjalan dengan baik yang dapat menyebabkan nilai tukar rupiah turun. Situasi ini mengakibatkan meningkatnya harga bahan pokok atau kebutuhan lainnya yang berbasis import.

Secara sederhana dapat diketahui bahwa dampak pandemi yang memukul industri properti ini sangat berdampak pada bidang usaha lainnya. Pandemi bernar-benar telah menghancurkan rantai ekonomi di Surabaya.

Strategi Developer Properti Menghadapi Masa Pandemi

Sebuah situasi yang tidak menyenangkan bukan berarti telah mematahkan semangat para developer properti. Justru situasi seperti ini menjadikan moment bagi mereka untuk semakin meningkatkan inovasi-inovasi guna mendongkrak penjualan.

Sebut saja Pantai Mentari yang merupakan perumahan di Surabaya ini telah melakukan serangkaian inovasi guna meningkatkan penjualan. Salah satu strategi utama mereka adalah dengan meningkatkan performa perusahaan mengunakan platform digital.

mereka melihat peluang karena dengan semakin terbatasnya ruang masyarakat untuk berinteraksi, satu-satunya media adalah digital. Melalui determinasi tersebut, mereka memaksimalkan kampanyenya.

Hasil dari upaya tersebut berbuah manis, penjualan mereka meningkat cukup pesat dibandingkan dengan tahun pertama pandemi. Hal tersebut tentu saja menjadi angin segar tidak hanya bagi pantai mentari tapi juga bagi developer properti yang lain.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Safe!

Keep Calm and Stay at Home